Category Archives: Artikel

Download Kajian Siroh Ibnu Hisyam Bersama Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed

Siroh Ibnu Hisyam merupakan sejarah terpanjang hidup Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam dari sebelum lahirnya beliau hingga akhir hayat beliau Sholallahu ‘alaihi wassalam, di sampaikan oleh Al Ustadz Muhammad Umar As Sewwed hafidzahullah, Pengasuh Pondok Pesantren Dhiya’us Sunnah, Cirebon. Mari kita ambil ibroh dari siroh tersebut. Semoga dapat bermanfaat. Continue reading Download Kajian Siroh Ibnu Hisyam Bersama Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed

Packing Paket Pesanan Jogjamuslim

Paket pesanan dari jogjamuslim kami packing atau bungkus dengan beberapa cara sesuai dengan ukuran dan barang yang dipesan , Berikut ini adalah beberapa cara packing pesanan paket dari jogjamuslim.com

1. Dengan Kertas atau Amplop A3
biasanya bungkus kertas atau A3 untuk paket dengan ukuran kecil seperti pesanan kaos kaki, sarung tangan, baju, jubah, ghomis, jilbab, cadar, herbal, dan lain-lain. Label nama dan alamat pemesana menggunakan kop jogjamuslim

Packing Kertas Amplop Jogjamuslim
Packing Kertas Amplop Jogjamuslim

Continue reading Packing Paket Pesanan Jogjamuslim

Menjaga Lisan dan Keutamaannya

Allah berfirman:

وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“Dan Dia telah menyempurnakan untukmu nikmt-Nya, lahir dan batin..” (Luqman: 20)

Dan Allah berfirman:

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ

“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kalian menghinggakannya.” (Ibrahim: 34)

Di antara nikmat ini adalah lisan. Allah memuliakan hamba-Nya dengan lisan dan menjadikan lisan sebagai pengungkap sesuatu yang ada di dalam jiwanya. Sebagaimana Allah berfirman:

الرَّحْمَٰنُ () عَلَّمَ الْقُرْآنَ () خَلَقَ الْإِنسَانَ () عَلَّمَهُ الْبَيَانَ

“Rabb Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al-Qur’an.  Dia telah menciptakan manusia dan mengajarnya pandai berbicara.” (Ar-Rahman: 1-4)

Dan Allah berfirman menyebutkan kebaikan-Nya kepada hamba-Nya ketika Dia menjadikan sebuah lisan untuknya:

أَلَمْ نَجْعَل لَّهُ عَيْنَيْنِ () وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ

“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, serta lidah dan dua buah bibir?’ (Al Balad: 8-9)

Dengan sebab lisan, pemiliknya kadang di angkat ke derajat yang paling tinggi. Hal itu ketika pemiliknya menggunakan lisannya dalam perkara-perkara yang baik, seperti berdoa, membaca Al-Qur’an, berdakwah kepada Allah, mengajar, dan semisalnya.

Dengan kata lain, jika dia menggunakannya dalam hal yang diridhoi Allah. Seperti mengucapkan kalimat tauhid, apabila terpenuhi persyaratannya yang terkumpul di dalam dua bait syair:

Ilmu, keyakinan, dan keikhlasan serta kejujuranmu disertai

Kecintaan, keterikatan, dan penerimaan terhadapnya

Bahkan ini adalah seutama-utama kalimat yang diucapkan oleh lisan. Di dalam Ash-Shahihain dari hadits abu Hurairah, dia mengatakan: Continue reading Menjaga Lisan dan Keutamaannya

Penyakit-Penyakit Lisan

Lisan terkadang menjadikan pemiliknya terjerembab ke dalam api neraka. Allah berfirman tentang penduduk surge bahwa mereka bertanya kepada penduduk neraka:

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ () قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ () وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ () وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ () وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ () حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ ()

“(Penduduk surga bertanya) ‘Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam saqar (Neraka)?’ Mereka (penduduk neraka) menjawab: ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) member makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian’.” (Al-Muddatstsir: 42-47)

Ibnu Katsir berkata tentang firman-Nya (adalah kami membicarakan yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya): “Maksudnya, kami membicarakan sesuatu yang tidak kami ketahui. Qatadah berkata: ‘Kami seorang yang sesat itu tersesat, maka kami tersesat bersamanya’.”

Dalam Shahih Al-Bukhari dari hadits Abu Hurairah disebutkan bahwa Nabi bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba itu mengatakan suatu kalimat yang diridhai Allah yang mana dia tidak menaruh perhatian tentangnya, yang dengan sebab kalimat itu Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dan sesungguhnya seorang hamba mengatakan suatu kalimat yang dimurkai Allah, yang mana dia tidak menaruh perhatian tentangnya, maka dengan sebab kalimat itu dia terjatuh ke jahannam.”

Muslim juga meriwayatkan yang semakna dengannya (4/2290)

Berikut ini sebagian penyakit-penyakit lisan: Continue reading Penyakit-Penyakit Lisan

TAQLID BUTA

Taqlid buta sangatlah berbahaya. Termasuk aib yang tersebar dikalangan kaum musimin dan kesalahan yang harus ditinggalkan pelakunya adalah taqlid buta (ikut – ikutan ).  Semoga Allah Subhanahuwata’ala memperbaiki mereka – seperti sikap membeo terhadap orang – orang barat atau timur dengan cara meniru kata atau perbuatan tanpa mengerti maksudnya agar dikatakan orang kota atau orang modern dan ini adalah kesalahan yang besar.

1.  wahai saudara ku, jauhilah olehmu mengikuti orang lain, hanya karena ikut ikutan saja, sehingga kamu bertanya tentang perkara tersebut kemudian kamu cocokan dengan islam (apakah bertentangan dengan islam atau tidak,pent), karena kadang – kadang ada perkara yang di haramkan seperti mamakai cincin pertunangan yang diberikan oleh pasangan wanita kepada laki- laki yang sangkaan itu menghalangi laki – laki tersebut dari campur baur dengan wanita – wanita lain dan wanita ini lupa bahwa seandainya laki – laki ini ingin bercampur bau dengan wanita lain sangat mungkin baginya untuk melepaskan cincin tersebut. Kebiasaan ini di ambil dari orang nasrani, terlebih lagi bila cincin itu dari emas yang haram atas laki – laki. Sungguh Rasulullah telah melarang kaum muslimin dari tasysabbuh ( meniru/menyerupai) orang kafir. Beliau bersabda : “ siapa yang menyerupai suatu kaum maka orang tersebut termasuk mereka” [Hadist Shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud] Continue reading TAQLID BUTA

Empat Mutiara Salaf

Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata,

كُلُّ نِعْمَةٍ لا تُقَرِّبُ مِنَ اللهِ فَهِيَ بَلِيَّةٌ

“Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]

‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,

عَمَّارٌ ثَلاَثٌ مَنْ جَمَعَهُنَّ فَقَدْ جَمَعَ الإِيمَانَ الإِنْصَافُ مِنْ نَفْسِكَ ، وَبَذْلُ السَّلاَمِ لِلْعَالَمِ ، وَالإِنْفَاقُ مِنَ الإِقْتَارِ

“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Ibnu Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu berkata,

اقْتِصَادٌ فِي سَنَةٍ خَيْرٌ مِنِ اجْتِهَادٍ فِي بِدْعَةٍ

“Hemat dalam suatu sunnah adalah lebih baik dari bersungguh-sungguh dalam suatu bid’ah.” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabarâny]

Umar bin Al-Khaththab radhiyallâhu ‘anhu berkata,

الْعِلْمُ ثَلَاثَةٌ: كِتَابٌ نَاطِقٌ، وَسُنَّةٌ مَاضِيَةٌ، وَلَا أَدْرِيْ

“Ilmu ada tiga: Kitab (Al-Qur’an) yang berbicara, Sunnah (Nabi) yang terus berlaku, dan (upacan) ‘saya tidak tahu’.” [I’lamul Muwaqqi’in karya Ibnul Qayyim]

http://salafy.or.id/

Sebuah Renungan, Perayaan Tahun Baru

Ditulis Oleh Al Ustadz Qomar ZA, Lc.

Anda ikut merayakan tahun baru, mengikuti siapa?

Perayaan tahun baru ternyata bukan sesuatu yang baru, bahkan ternyata itu adalah budaya yang sangat kuno, bebarapa umat melakukan. Perayaan itu, diantaranya adalah hari raya Nairuz, dalam kitab al Qomus. Nairuz adalah hari pertama dalam setahun, dan itu adalah awal tahun matahari.

Orang-orang Madinah dahulu pernah merayakannya sebelum kedatangan Rasulullah. Bila diteliti ternyata ternyata itu adalah hari raya terbesarnya orang Persia bangsa Majusi para penyembah api, dikatakan dalam sebagian referensi bahwa pencetus pertamanya adalah salah satu raja-raja mereka yaitu yang bernama Jamsyad.

Ketika Nabi datang ke Madinah beliau mendapati mereka bersenang–senang merayakannya dengan berbagai permainan, Nabi berkata: ‘Apa dua hari ini’, mereka menjawab, ‘Kami biasa bermain-main padanya di masa jahiliyah’, maka Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْر

“Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari itu dengan yang lebih baik dari keduanya yaitu hari raya Idul Adha dan Idul Fitri. [Shahih, HR Abu Dawud disahihkan oleh asy syaikh al Albani]

Para pensyarah hadits mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua hari yang sebelumnya mereka rayakan adalah hari Nairuz dan hari Muhrojan [Mir’atul mafatih]
Di samping majusi, ternya orang-orang Yahudi juga punya kebiasaan merayakan awal tahun, sebagian sumber menyebutkan bahwa perayaan awal tahun termasuk hari raya Yahudi, mereka menyebutnya dengan Ra’su Haisya yang berarti hari raya di penghujung bulan, kedudukan hari raya ini dalam pandangan mereka semacam kedudukan hari raya Idul Adha bagi muslimin.

Lalu Nashrani mengikuti jejak Yahudi sehingga mereka juga merayakan tahun baru. Dan mereka juga memiliki kayakinan-keyakinan tertentu terkait dengan awal tahun ini. [Bida’ Hauliiyyah] Continue reading Sebuah Renungan, Perayaan Tahun Baru

Hukuman-Hukuman yang Mendidik dan Bermanfaat

Di sana ada hukuman-hukuman yang mendidik dan sukses, pantas bagi seorang pengajar untuk menggunakannya kepada pelajar-pelajar yang menyimpang dari adab-adab pelajaran dan tidak menghormati kedudukan ustadz, yaitu hukuman-hukuman mendidik yang aman dari akibat-akibat yang buruk, yang memberi jaminan kesuksesan dengan kehendak Allah. Hukuman-hukuman tersebut bermacam-macam:

1. Nasihat dan Bimbingan

Ini adalah cara yang pokok dalam kegiatan belajar dan mengajar yang sangat dibutuhkan. Metode ini telah ditempuh oleh guru besar bersama anak-anak atau orangtua-orangtua. Continue reading Hukuman-Hukuman yang Mendidik dan Bermanfaat

Fatwa – Hukum Mendengar Murottal Musyari bin Rasyid al-Afasi (Revisi)

Oleh Al Ustadz Abu Amr Ahmad Alfian

Sebuah pertanyaan pernah diajukan kepada asy-Syaikh ‘Ubaid al-Jabiri hafizhahullah:

“Apa hukum mendengar dzikir pagi-petang yang dikemas dalam suara merdu/nyanyian. Seperti kaset yang telah beredar di pasaran dengan suara Musyari al-’Afasi?” Continue reading Fatwa – Hukum Mendengar Murottal Musyari bin Rasyid al-Afasi (Revisi)

Download Kajian Kitab Shahih Muslim Oleh Ustadz Syafruddin

Download Mp 3 Kajian Rutin Pondok Al Anshar

Setiap Ahad, Waktu: Ba’da Magrib,
Tempat: Masjid Al Anshor, Yogykarta
Ust. Ustadz Syafruddin
Kitab Shahih Muslim
Download sesi 1 | Download | 4,9 MB,

Download sesi 2 | Download | 9 MB

Download sesi 3 | Download | 5 MB

Download sesi 4 | Download | 5,5 MB

Segera update insya Allah sesi berikutnya