Category Archives: Uncategorized

DAUROH NASIONAL “ASY SYARIAH” ke-11 1436 H-2015 M

Dauroh nasional 2015 Revisi
Dauroh nasional 2015 Revisi

 

Bismillah

 

Alhamdulillah, dengan pertolongan dan taufik dari Allah, insya Allah akan hadir kembalI.
DAURAH ILMIAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH “ASY SYARIAH” Ke-11
• 1436 H/2015 M •

dengan tema:

“MENANGKAL RADIKALISME BERDASARKAN PEMAHAMAN SALAF“,

Dengan pembicara:

  1.  Asy-Syaikh Khalid azh-Zhafiri (Kuwait)
  2.  Asy-Syaikh Badr bin Muhammad al-Anazi (Arab Saudi)
  3.  Asy-Syaikh Usamah bin Sa’ud al-‘Amri (Arab Saudi)
  4.  Asy-Syaikh Fuad bin Sa’ud al-‘Amri (Arab Saudi)

Kajian umum insya Allah diselenggarakan di Masjid Agung Manunggal, Bantul pada Sabtu-Ahad, 19-20 Sya’ban 1436 H (6-7 Juni 2015);

Daurah asatidzah di Ma’had al Anshar, Kamis-Sabtu, 17-26 Sya’ban 1436 H (4-13 Juni 2015).

Kajian ini insya Allah bisa diikuti melalui:

===============================

Bagi antum yang ingin ikut serta menyebarkan Pamflet Dauroh Nasional Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Asy Syariah ke 11, tafadhal untuk mendownload link pamflet – dengan Resolusi tinggi – pada link di bawah:

Ukuran A4 ~ http://goo.gl/Q220uh

Ukuran A3 ~ http://goo.gl/QzyUYf

URL SUMBER : http://forumsalafy.net/?p=10693

Abu Bakr radhiyallahu anhu Menunaikan Ibadah Haji

 Oleh  Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Pada tahun 9 H, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengutus Abu Bakr  radhiyallahu anhu haji bersama kaum muslimin. Pelaksanaan haji ini sangat kuat pengaruhnya, terutama sesudah Pembebasan Makkah. Pintu-pintu mulai terbuka menyambut kaum muslimin berhaji dan umrah, silih berganti.

Peristiwa haji ini dapat dikatakan sebagai persiapan menghadapi haji akbar, yaitu haji wada’. Pada haji Abu Bakr ini, diumumkan batalnya semua perjanjian yang ada dengan kaum musyrikin dan dimulainya tahapan baru kehidupan di jazirah Arab. Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi manusia selain menerima syariat Allah l. Setelah ultimatum ini tersebar, kabilah-kabilah Arab mulai yakin urusan ini bukan main-main. Paganisme sudah hancur. Mulailah mereka mengirim utusan menyatakan terang-terangan keislaman mereka.

Abu Bakr radhiyallahu anhu bertolak dari Madinah bersama tiga ratus orang menuju Tanah Haram yang sudah dibersihkan oleh Allah Subhanahuwata’ala dari berhala dan tempat-tempat pemujaan. Abu Bakr radhiyallahu anhu berangkat membawa lima ekor unta untuk korban, sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim pula dua puluh lima ekor yang beliau tandai sendiri.

Termasuk karunia Allah Subhanahuwata’ala kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin adalah mengembalikan kesucian Bait-Nya sebagaimana dahulu Ibrahim ‘Alaihissalam meninggikan pondasinya bersama putera tercinta, Ismail ‘Alaihissalam. Lalu turunlah firman-Nya:

وَأَذَانٌ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ ۙ وَرَسُولُهُ

“Dan (inilah) suatu permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin….” (at-Taubah: 3)

Firman Allah Subbhanahuwata’ala:

مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَن يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَىٰ أَنفُسِهِم بِالْكُفْرِ ۚ أُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ () إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (at-Taubah: 17—18)

Dan firman Allah Subhanahuwata’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَٰذَا ۚ وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ إِن شَاءَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (at-Taubah: 28)

Tak lama, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu menyusul Abu Bakr radhiyallahu anhu.

‘Ali bin Abi Thalib pun bertemu dengan Abu Bakr radhiyallahu anhu di ‘Araj. Abu Bakr bertanya, “Apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukmu memimpin haji?”

“Tidak, “ kata ‘Ali, “Hanya saja saya diutus oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membacakan kepada seluruh manusia bara’ah (surah at-Taubah) dan mengembalikan semua kesepakatan kepada pemiliknya.” Continue reading Abu Bakr radhiyallahu anhu Menunaikan Ibadah Haji